Pemakaman Jenazah Saptanti BMI Hong Kong Yang Meninggal Akibat Kecelakaan
Karya: Etty Diallova (KPK+)
Bertempat di rumah duka, Desa Kalikudi, Rt 02/RW 02 Kec. Adipala, Cilacap- Jawa Tengah. Jenazah almarhumah Saptanti binti Tugiyo Yasakarsa bersiap-siap untuk dimakamkan. Suasana duka nampak kental terlihat. Para tetangga, sanak family dan handai taulan datang untuk menghantarkan jenazah pahlawan devisa itu menuju tempat peristirahatan yang terakhir. Hadir juga di tengah-tengah mereka, camat Kalikudi Drs. Bayu Prahara, Msi. Danramil 08, Kapolsek Adipala, Kepala desa Kalikudi, beserta seluruh jajaran perangkat desa.
Saptanti meninggal dunia pada Selasa (25/08/15) di Rumah Sakit Tuen Muen, Hong Kong. Almarhumah meninggal akibat insiden kecelakaan yang menimpanya pada Minggu (23/08/15). Saat itu almarhumah sedang mengendarai sepeda hendak libur. Namun nasib nahas menimpanya, ketika hendak menyeberangi jalan, sebuah mini bus menghantam sepeda yang ia kendarai dari arah berlawanan. Korban menderita luka serius dan dalam keadaan kritis.
Menurut sahabatnya, yang berhasil dihubungi melalui via inbok mengatakan, Saptanti semasa hidupnya adalah wanita yang periang, humoris dan suka menolong. Pemilik akun Facebook bernama Tanti Shofianti ini, meninggalkan seorang putri yang bernama Rafika Shofianti (6) atau yang sering disapa Ofi.
Almarhumah sempat dibawa ke rumah sakit, dan menjalani operasi untuk beberapa jam lamanya. Namun takdir berkata lain, wanita beranak satu itu pun menghembuskan nafas yang terakhir pada pukul 06.30 waktu setempat. Kepergian almarhumah yang secara tiba-tiba meninggal kesan mendalam di hati para sahabat sesama Buruh Migran Indonesia (BMI) di Hong Hong.
Saptanti tercatat masuk ke Hong Kong atas jasa PT Sumber Dharma Bhakti, disalurkan oleh Sunlight Employement Agency. Berdasarkan dokument ketenagakerjaan HKID, almarhumah bekerja di Negeri Beton sejak 6 September 2010 (kurang lebih selama 5 tahun).
Perempuan berkelahiran Cilacap, 14 Desember 1984 ini, meninggal saat sedang mengemban tugasnya sebagai pahlawan devisa negara. Menurut pengakuan yang penulis dapatkan dari teman-teman almarhumah di jejaring Facebook, sebelum kejadian nahas itu, almarhumah beberapa hari yang lalu berpamitan untuk off line sementara. Ia mengatakan jenuh dengan berita di sosial media. Namun, ternyata itu merupakan pamitan terakhirnya pada sahabat di dunia maya.
Bahkan menurut penuturan kakak angkat almarhumah yang memiliki akun Facebook Laras Laras, pada bulan Juli lalu, almarhumah minta dibelikan baju gamis setelan dengan hijab sebagai hadiah untuknya. Ketika baju itu sudah dipesan secara online dan siap diambil, Saptanti sudah meninggal dunia. Perempuan yang beranak satu itu pun tidak sempat memakai baju yang telah dibelikan oleh kakak angkatanya tersebut.
Ia tidak tahu, baju itu akan diapakan. Disimpan kah sebagai kenang-kenangan, atau dikirimkan pada keluarga almarhumah yang berada di tanah air. Ungkap Laras yang juga berprofesi sebagai BMI di Hong Kong.
Selamat jalan Saptanti, semoga Allah mengampuni segala dosa-dosanya, serta keluarga yang ditinggalkan selalu diberikan ketabahan.
Taipei, 11 September 2015
--------------------------------------------------
Tidak ada komentar:
Posting Komentar