Kamis, 03 September 2015

Danau Indah Way Jepara

Keindahan dan Mistis DANAU INDAH di Way Jepara
Karya: Etty Diallova Pratama


Pemandangan indah terhampar, mengapit sebuah danau berair tenang berwarna kuning kehijauan. Pohon-pohon nan teduh dan rindang membuat suasana tampak asri dan udara terasa segar, tanpa hiruk-pikuk kesibukan aktivitas dan polusi asap dari kendaraan.
Adalah tempat yang cocok untuk mengajak keluarga dan orang yang kita sayangi mengunjungi daerah tersebut.
Danau Indah, begitulah orang-orang menyebutnya. Karena terletak di perbatasan Desa Danau Indah dan Desa Sumur Bandung, yang berkecamatan di Kota Way Jepara.
Jarak tempuh sekitar 45 menit dari pusat Pasar Way Jepara.
Jantung pergerakan ekonomi, yang penduduknya didominasi sebagai pedagang.
Dengan menyusuri Jl Binter Raya, dan melewati beberapa desa, maka akan membawa kita sampai ke Danau Indah.
Untuk mencapai ke tempat itu tidaklah sulit, karena jalanan yang kita lalui sudah batu halus, hanya dibagian tertentu yang rusak akibat dilalui oleh truk membawa angkutan berat.
Di hari minggu, tempat ini akan dipenuhi para pengunjung, banyak sepasang muda-mudi yang duduk santai dan saling bercerita.
 Atau tampak segerombolan organisasi pelajar atau mahasiswa yang asyik berdiskusi dan mengadakan acara alam lainnya.
Namun di tempat ini jangan pernah melakukan hal yang tidak senonoh ya? Karena akan berakibat fatal.

Konon Danau Indah adalah tempat bertapa buaya putih buntung. Buaya itu berasal dari pantai selatan atau yang sering dikenal dengan wilayah kekuasan Nyai Roro Kidul.
Pada bulan Suro, dipercayai sang buaya akan mencari tumbal untuk sesaji pertapaannya.
Dahulu ada seorang anak Pramuka yang mencari jejak hilang tanpa meninggalkan jejak. Ia pamit kepada kakak ketua untuk buang air kecil namun tiada kembali lagi.
Setelah ditanyakan kepada orang pintar, menurut penjelasannya bocah tersebut masuk ke danau karena merasa ingin menolong seseorang yang hendak tenggelam.
Yang tak lain adalah tipu daya sang Danyang (penguasa) danau tersebut.

Untuk melewati pintu gerbang wilayah Danau Indah juga, para pengendara kendaraan harus uluk salam (memberi salam) seperti membunyikan klakson atau bel kendaraan sebagai tanda permisi hendak memasuki wilayah tersebut.
Pernah suatu hari Pakde Paimin, beliau merasakan sepeda ontel yang ia kendarai terasa berat untuk dikayuh. Seperti ada seseorang yang memboncengi sepedanya, padahal setelah menengok ke arah belakang, tidak seorang pun terlihat apalagi meminta bonceng beliau.
Lantaran beliau lupa membunyikan bel sepeda saat hendak melintas mencari rumput untuk ternaknya di rumah.

Meski kekuatan mistis telah merebak dan dipercayai turun-temurun, namun tetap saja ada pengunjung yang hendak bertingkah kurang ajar di tempat tersebut.
Pernah sepasang kekasih yang melakukan perbuatan mesum, harus berujung pada kematian tragis yang memalukan.
Karena saat mereka melakukan hubungan intim suami istri, kedua kemaluan mereka tidak bisa dipisahkan. Jadi penis yang telah masuk ke dalam vagina itu seperti telah berakar tidak bisa dipisahkan. Karena tidak kuat menanggung sakit dan rasa malu, keduanya meninggal di tempat kejadian.

Bahkan para penduduk sekitar juga memperkuat penjelasan tidak ada seorang pun yang berani memancing ikan di danau tersebut.
Pak Ngatijan adalah seseorang yang gemar memancing ikan. Karena merasa memiliki ilmu atau kekuatan batin yang tinggi, beliau tidak mengindahkan peringatan sang istri untuk tidak mancing di danau tersebut.
Namun Pak Ngatijan secara diam-diam tetap melaksakan kegemarannya itu, wal hasil jasadnya ditemukan mengapung di bendungan kecil perbatasan danau untuk pengairan sawah.
Kasak-kusuk dari cerita penduduk, Pak Ngatijan terjun ke danau lantaran melihat seekor ikan besar yang hendak ditangkapnya.

Danau Indah Way Jepara juga sering digunakan untuk pertemuan organisasi atau perkumpulan saat merayakan hari jadi atau perayaan tertentu.
 Lagi-lagi dengan aturan harus menjaga tatakrama selama berada di wilayah tersebut.
Tidak boleh buang air kecil sembarangan.
Karena menurut cerita ada seorang pemuda yang buang air kecil di bawah pohon rindang yang berlubang kecil, di saat si pemuda sedang membuang hajatnya, tiba-tiba muncul seekor ular dari lubang tersebut dan mematuk penis sang pemuda.
 Akhirnya nyawanya tidak dapat diselamatkan akibat dari upas ular yang telah menjalar ke seluruh tubuh.

Setelah puas menikmati keindahan pemandangan alam terbuka dan beristirhat di villa yang tersedia di kawasan danau, kita masih bisa terus berjalan menyusuri jalan aspal berbatu menuju tempat kramat lainnya.
Jika kita berbelok ke arah kiri, kita akan menuju kesebuah patung “Ceret”. Karena sebuah patung yang bentuknya menyerupai tempat air minum dingin yang sering dibawa petani ke sawah.
Konon patung ini mengandung kekuatan mistis dan cerita-cerita bersejarah lainnya.

Jika mengarahkan diri ke belokan kanan, terus menyusuri jalan setapak akan melihat sebuah patung ular yang sedang melilit. Dipercayai penduduk sekitar daerah bahwa di bawah patung tersebut terdapat keris pusaka ampuh sang Dayang penguasa Danau Indah tersebut.

Terlepas dari semua mistis dan keindahan yang terkandung di Danau Indah, yang jelas tetap mengajarkan kita untuk tetap menjaga tatakrama di manapun kita berada.

Danau Indah diakui sebagai salah satu aset kekayaan di daerah Way Jepara, kabupaten Lampung Timur. Daerah yang terkenal dengan penghasil kerupuk udangnya tersebut.
Maka jika singgah atau berkunjung ke Lampung Timur, silahkan berrekreasi dan menikmati keindahan pemandangan Danau Indah di kota Way Jepara.


Taiwan, 15 Juli 2015

                                                                            ~~@@~~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar